September 30, 2020

Jenis Kambing Budidaya

Kambing merupakan salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan oleh peternak tradisional. Produksi dan konsumsi daging kambing di Indonesia memang tidak banyak daging sapi, apalagi jika dibandingkan dengan daging ayam.

Namun bisnis domba cukup menjanjikan. Hingga saat ini, peternakan domba sebagian besar masih dilakukan oleh peternak tradisional. Persaingan antar peternak tidak sekencang ayam atau sapi. Karena tidak banyak perusahaan besar yang terlibat dalam bisnis domba.

Selain mengambil daging, domba juga mengambil susu. Susu kambing dikatakan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan susu sapi. Susu kambing juga lebih cocok untuk kawasan Asia khusus yang beriklim tropis karena memiliki butiran lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Selain itu, nilai susu kambing lebih tinggi dari pada susu sapi.

Nama ilmiah dari domba tersebut adalah Capra aegagrus, tidak ada yang tahu itu sejak manusia mulai mengangkut domba untuk ternak. Sekarang ada banyak jenis domba yang bisa dirawat. Setiap tipe memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Berikut ini adalah beberapa jenis domba yang banyak dibudidayakan di Indonesia:

a. Kacang kambing

Kambing kambing merupakan kambing lokal yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Tubuh kacang polong cukup kecil dibandingkan dengan jenis domba lainnya. Namun, sangat tahan terhadap penyakit alam dan tropis. Karena sifatnya yang tangguh dan tidak memerlukan perawatan yang rumit, banyak domba yang ditanam secara langsung maupun berdampingan.

Kepala kambing kacang kecil bertanduk pendek. Kedua telinga berdiri dengan janggut panjang. Kambing jantan dewasa beratnya bisa mencapai 30 kg disamping 25 kg betina.

Bulu kambing tipis, putih, hitam, coklat dan kombinasi dari warna-warna tersebut. Ciri khusus selai kacang adalah rambutnya tumbuh memanjang dari leher, bahu, hingga ujung ekor.

b. Kambing etawa / domba jamnapari

Orang yang sering menggunakan kompilasi sex disebut goat atau yang biasa digunakan adalah sheep breed atau (PE). Domba etawa sendiri sebenarnya disebut domba jamnapari yang berasal dari kawasan Etawah, India, yang pada tahun 1930-an oleh Hindia Belanda dan pada tahun 1947 oleh Presiden Sukarno. Pada zaman Belanda, domba jamnapari ini dikembangkan di Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan pada masa Presiden Soekarno, domba dipelihara di Desa Senduro di kaki Gunung Semeru, Jawa Timur.

Domba jenis jamnapari memiliki tubuh bonsor yang indah. Pria dapat memiliki berat hingga 120 kg, sedangkan wanita memiliki berat 90 kg. Domba jamnapari adalah kambing perah atau biasa diambil susunya. Produksi susu bisa sampai 2 liter per hari.

c. Kambing berkembang biak etawa (PE)

Kambing membiakkan Etawa
Kambing berkembang biak etawa. (Foto: alamtani)

Kambing berkembang biak etawa (PE) dikenal dengan sebutan domba atau. Jenis kambing ini merupakan hasil persilangan antara domba jamnapari dengan domba lokal. Ada berbagai ras domba atau etawa di Indonesia, yang paling terkenal adalah ras senduro dan kaligesing. Kambing ras etawa ras NTT sebagai hasil persilangan antara domba Jamnapari menggolo dan kambing, domba lokal Lumajang. Selama lomba kaligesing merupakan perpotongan antara domba jamnapari dengan domba kacang.

Untung beternak domba etawa adalah jenis ini sebagai produsen tanaman dayung yang lebih baik atau susu. Ciri asli yang membuat banyak petani tertarik mengolah etawa. Dengan mendapatkan daging, dimungkinkan untuk memanen susu.