September 26, 2020
Riwayat Hidup Ki Singapatra Patramenggala

Riwayat Hidup Ki Singapatra Patramenggala

Riwayat Hidup Ki Singapatra PatramenggalaRiwayat Hidup Ki Singapatra Patramenggala

Jika anda pernah mendengar atau membaca kisah sejarah dari Ki Bodronolo, Sang Bupati Panjer (Kebumen) pertama, maka di situ tersebutlah nama-nama orang dekat yang berada di sekelilingnya. Salah satu di antaranya yaitu tokoh bernama Ki Singapatra/ Patramenggala, sang mertua sekaligus rekan seperjuangan Ki Bodronolo saat mempertahankan bumi Panjer (Kebumen) dari penjajahan kompeni Belanda.

Siapakah Ki Singapatra?

Dari sekian banyak tokoh penting dalam sejarah Kebumen, Ki Singapatra merupakan salah satu tokoh yang keberadaannya jauh lebih dulu ada sebelum tokoh-tokoh seperti Arung Binang, Tumenggung Kolopaking, Pangeran Bumidirjo, dan bahkan Ki Bodronolo yang menjadi menantunya. Menurut riwayat, Ki Bodronolo mempersunting salah satu anak Ki Singapatra yang bernama Endang Patrasari.

Ki Singapatra/ Patramenggala diperkirakan hidup pada sekitar tahun 1500 hingga 1700 an dan merupakan tokoh pendiri desa Trukahan yang kini berubah menjadi kelurahan Kebumen. Bersama dengan Ki Bodronolo dan Ki Ageng (Sunan) Geseng, beliau juga turut berperan serta dalam menghalau kompeni Belanda yang hendak masuk wilayah Panjer pada tahun 1643.

Memiliki nama asli Singapatra, tokoh ini juga dikenal dengan nama Nayapatra yang merupakan gelar setelah beliau memimpin wilayah Trukahan (Naya: pemimpin, Patra: Baik / Pantas). Adapun Patra Menggala adalah nama tua setelah beliau hidup mandita (menekuni dunia spiritual).

Ada dua versi tentang siapa sosok Ki Singapatra ini. Versi pertama dari Babad Kolopaking menyebutkan bahwa Ki Singapatra adalah putra dari Ki Ageng (Sunan) Geseng, tokoh penyebar agama Islam dari tanah Bagelen. Namun versi ini dianggap lemah. Sedangkan versi kedua dari cerita turun – temurun trah Ki Singapatra mengatakan bahwa beliau adalah tokoh yang masih memiliki alur keturunan keluarga Majapahit. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan nama binatang (Singa) pada nama beliau sebagaimana nama-nama binatang seperti Gajah, Lembu, Kebo dan lain- lain yang banyak digunakan pada zaman Majapahit.

Meninggalkan Majapahit, Ki Singapatra melakukan perjalanan ke arah barat hingga akhirnya sampai di tepian sungai Luk Ula. Di sana, beliau kemudian mendapat petunjuk/ sasmita untuk membuka wilayah tersebut sebagai tempat tinggalnya. Setelah membuka wilayah tersebut, banyak warga dari berbagai daerah yang ikut bermukim di wilayah tersebut hingga semakin berkembang dan akhirnya diberi nama Desa Trukahan atau yang kini menjadi Desa Kebumen.

Suatu ketika, datanglah Ki Ageng (Sunan) Geseng ke wilayah desa Trukahan dan disambut baik oleh Ki Singapatra. Bahkan mereka berdua akhirnya menjadi sahabat karib dan bekerja sama mendirikan sebuah padepokan ilmu kanuragan dan spiritual di tepi sungai Luk Ula. Konon padepokan ini bertahan hingga masa perang Dipanegara dan digunakan sebagai tempat penyusunan strategi pasukan Panjer dibawah pimpinan Senopati Jamenggala. Pasca perang Dipanegara (tahun 1841), petilasan tersebut kemudian digunakan sebagai tempat ibadah (masjid) yang hingga kini dikenal sebagai masjid Darussalam Kelurahan Kebumen.

masjid Darussalam
via sindonews.com

Dalam buku Sejarah Dinasti KRAT Kolopaking karya R. Tirto Wenang Kolopaking disebutkan bahwa saat tentara Kompeni/VOC mencoba mendarat di pesisir Urut Sewu Petanahan untuk menghancurkan lumbung-lumbung padi serta bahan pangan Panjer pada tahun 1643, prajurit Panjer di bawah komando Ki Bodronolo bersama dengan Ki Ageng (Sunan) Geseng dan Ki Nayapatra (Singapatra/ Patra Menggala) berhasil menghalau pasukan Belanda untuk mundur dan kembali ke kapal mereka meninggalkan pantai Petanahan. Atas keberhasilannya tersebut, Ki Bodronolo diberi sebutan gelar Ki Gedhe Panjer Roma I oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pasca Sultan Agung Hanyakrakusuma wafat pada tahun 1645, Ki Singapatra sempat menjadi pejabat setingkat gubernur di pesisir utara Jawa setelah ditugaskan oleh Sultan Amangkurat I. Dimasa itu, beliau juga menikahi seorang putri dari Yudanegara I (bupati Banyumas ke-5) sebagai istri terakhir yang kemudian dikenal dengan Nyi Patra Menggala.

Setelah lanjut usia, Ki Singapatra memutuskan pulang ke Trukahan (sekarang di jalan Garuda) dan menekuni laku spiritual hingga akhir hayatnya. Kini petilasan makamnya berada di pemakaman umum Kelurahan Kebumen (di Jalan Telasih/ timur kantor Kecamatan Kebumen ke selatan kurang lebih 700 meter). Situs Makam Ki Singapatra juga telah dipugar oleh masyarakat sekitar dan diresmikan oleh Dandim 0709/Kebumen pada Jumat Pahing 26 Juni 2014 lalu

RECENT POSTS