September 23, 2020
Keturunan Bathara Anantaboga (Versi Wayang)

Keturunan Bathara Anantaboga (Versi Wayang)

Keturunan Bathara Anantaboga (Versi Wayang)Keturunan Bathara Anantaboga (Versi Wayang)

Bathara Anantaboga adalah dewa berwujud naga yang memiliki sayap dan beristana di Kayangan Saptapratala. Kata ananta berarti tanpa batas atau tak terbatas, sedangkan kata boga berarti makan. Maka Anantaboga berarti makannya tanpa batas. Dalam pewayangan Jawa, sosok ini lebih umum disebut juga dengan nama Antaboga.

Bathara Anantaboga

Menurut uraian dalam buku Ensiklopedia Wayang Purwa terbitan Balai Pustaka, silsilah Bathara Anantaboga bermula dari Sanghyang Wenang yang melahirkan seorang putri bernama Dewi Sayati. Dewi Sayati kemudian menikah dengan jin berwujud naga bernama Anantawisesa.

Anantawisesa dan Dewi Sayati kemudian memiliki dua anak, yaitu Anantadewa dan Anantaswara, keduanya juga berwujud naga. Anantadewa kemudian berputra Anantanaga (taksaka-naga) dan Anantantawara. Selanjutnya, Anantantawara berputra Anantaboga yang tinggal di Kayangan Saptapratala. Kata sapta berarti tujuh sedangkan kata pratala berarti bumi.

Bathara Anantaboga kemudian menikah dengan dewi Supreti dan memiliki dua anak yaitu Dewi Nagagini dan Nagatatmala. Anantaboga terkenal sakti mandraguna, ia bisa berubah wujud menjadi manusia dengan sikap, karakter, ucapan dan hati yang menunjukkan sikap sebagai seorang pendeta. Jika marah, ujung ekornya yang digoyangkan bisa menyebabkan gempa besar dan membuat geger di arcapada dan Suralaya.

Anantaboga mendapat anugerah kedudukan dari Raja Tribuwana karena jasanya. Dengan laku bertapa Anantaboga ingin memiliki aji Kemayan yang dapat membuat dirinya berubah menjadi manusia.

Ketika Anantaboga bertapa, mulutnya kemasukan cupu Linggamanik. Cupu tersebut kemudian diserahkan kepada Sanghyang Manikmaya. Setelah dibuka, dari dalam cupu keluarlah seorang putri yang cantik jelita. Putri itu bernama Dewi Sri dan kemudian menjadi istri Sanghyang Wisnu. Tindakannya itu menumbuhkan rasa suka dari semua warga Suralaya sehingga Anantaboga kemudian dianugerahi gelar Hyang atau Sanghyang.

Dalam lakon Bale Sigalagala, Dewi Prita atau Dewi Kunti dan kelima putranya yaitu Pandawa, bisa selamat dari musibah kebakaran yang disebabkan oleh para Kurawa. Dewi Kunti dan Pandawa selamat hingga sampai di Saptapratala berkat bantuan dari Anantaboga. Bima atau Arya Werkudara kemudian ditunangkan dan dinikahkan dengan Dewi Nagagini, putri Anantaboga. Dari keduanya, lahirlah Anantareja atau yang juga sering disebut dengan nama Antareja.

Raden Antareja

Dalam lakon Sumbadra Larung, Anantaboga memberikan kesaktiannya kepada cucunya, Anantareja, sehingga ia kebal terhadap segala senjata. Saat itu Anantareja sedang berusaha mencari ayahnya, Werkudara. Anantareja juga pernah perang tanding (duel) melawan Naga Sindula. Pada saat itu terjadi pertempuran yang menyebabkan kerusuhan di Suralaya.

Dalam lakon Babad Wana Marta, Hyang Anantaboga membantu Pandawa untuk menyingkirkan jin dan setan yang tinggal di hutan Alas Mertani. Hutan belantara yang luas gung liwang-liwung tersebut kelak di kemudian hari akan dibangun menjadi Kerajaan Amarta.

Anantareja bisa tidak mempan terhadap segala macam senjata dan tidak bisa mati karena dirinya pernah mandi menggunakan air ludahnya Anantaboga. Kejadian ini diceritakan dalam lakon Laire Anantareja. Anantareja menikah dengan Dewi Ganggi, putri Raja Ganggapranawa, raja dari negara Tawingnarmada. Anantareja dan Dewi Ganggi memiliki seorang putra yaitu Danurwenda.

Ketika Parikesit menjadi penguasa kerajaan Yawastina, yaitu negara Astina setelah perang Baratayuda, Danurwenda diangkat sebagai Patih njaban ngrangkah. Danurwenda kemudian memiliki keturunan bernama Raden Nagapratala, senapati (panglima) perang pada masa pemerintahan Raja Gendrayana, raja Yawastina setelah Prabu Parikesit.

Sedangkan Putra Bathara Anantaboga dan Dewi Supreti yang bernama Bambang Nagatatmala menikah dengan Dewi Mumpuni dan memiliki seorang putra bernama Nagapustaka. Bambang Nagatatmala juga seorang penguasa yang memerintah di negara Srengga berjuluk Prabu Manindrataya.

Setelah Nagapustaka dewasa, ia menikah dengan Garuda Rukmawati (keturunan Garuda Aruna) dan keduanya tidak mempunyai keturunan. Garuda Rukmawati moksa, sedangkan Nagapustaka menjelma menjadi Pustaka Jamus. (Ichwan Prasetyo)

Sumber: https://whypoll.org/tiga-bulan-melenggang-di-pasar-luna-g-terjual-60-ribu-unit/