August 4, 2020
Pengertian Ijtihad

Pengertian Ijtihad

Pengertian IjtihadPengertian Ijtihad

Ijtihad  secara bahasa ijtihad berasal dari kata jahada. Kata ini beserta seluruh variasinya menunjukan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa, sulit dilaksanakan, atau yang tidak disenangi . kata ini pun berarti kesanggupan (al wus), kekuatan (al thaqah), dan berat (al masyaqqah), (ahmad bin ahmad bin ali al muqri al fayumi t.th:112,dan eli’as dan eli’as. dan ed.e. eli’as 1982:126).

Para ulama mengajukan redaksi yang bervariasi dalam mengartikan kata ijtihad secara bahasa . ahmad bin ahmad bin ali al muqri al fayumi. Secara bahasa dalam artian jahada terdapat didalam al-Qur’an surat an-nahl (16) ayat 38 , surat annur (24) ayat 53, dalam surat fathir (35) ayat 42. Semua kata itu berarti pengarahan segala kemampuan dan kekuatan. Dalam al sunnah kata ijtihad terdapat dalam sabda nabi yang artinya pada waktu sujud, bersungguh-sungguh dalam berdo’a  dan hadist lain yang artinya “Rosul alloh SAW bersungguh-sungguh pada sepuluh  hari terakhir pada bulan ramadhan.

Dalam sejarah pemikiran Islam, ijtihad telah banyak digunakan. Hakikat ajaran Al-Qur’an dan hadis memang menghendaki digunakannya ijtihad. Dari ayat Al-Qur’an yang jumlahnya ± 6300, hanya ±500 ayat, menurut perkiraan ulama, yang berhubungan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Ayat-ayat tersebut pada umumnya berbentuk ajaran-ajaran dasar tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai maksud, rincian, cara pelaksanaannya dsb. Untuk itu, ayat-ayat tersebut perlu dijelaskan oleh orang-orang yang mengetahui Al-Qur’an dan hadis, yaitu pada mulanya Sahabat Nabi dan kemudian para ulama. Penjelasan oleh para Sahabat Nabi dan para ulama itu diberikan melalui ijtihad.

Kata ijtihad menurut bahasa berarti ‘daya upaya” atau “usaha keras”. Dengan demikian ijtihad berarti “berusaha keras untuk mencapai atau memperoleh sesuatu”. Dalam istilah fikih, ijtihad berarti “berusaha keras untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil-dalil agama : Al-Qur’an dan hadis” (Badzl al-wus’i fi nail hukm syar’i bi dalil syar’i min al-kitab wa al-sunnah). Ijtihad dalam istilah fikih inilah yang banyak dikenal dan digunakan di Indonesia.

Dalam arti luas atau umum, ijtihad juga digunakan dalam bidang-bidang lain agama. Misalnya Ibn Taimiyah yang menyebutkan bahwa ijtihad juga digunakan dalam bidang tasawuf dan lain-lain, mengatakan:”Sebenarnya mereka (kaum sufi) adalah mujtahid-mujtahid dalam masalah kepatuhan,sebagaimana mujtahid-mujtahid lain. Dan pada hakikatnya mereka (kaum sufi di Bashrah) dalam masalah ibadah dan ahwal (hal ihwal) ini adalah mujtahid-mujtahid, seperti halnya dengan tetangga mereka di Kufah yang juga mujtahid-mujtahid dalam masalah hukum, tata negara, dan lain-lain.

Dr. Muhammad al-Ruwaihi juga menjelaskan bahwa di masa-masa akhir ini timbul berbagai pendapat tentang Islam, baik di Barat, Timur, maupun pada orang Arab serta orang Islam sendiri. Pendapat-pendapat orang Islam itu merupakan Ijtihad, baik secara perorangan maupun kolektif, yang memperoleh pahala sesuai dengan benar atau salahnya ijtihad itu. Berikut adalah sejarah dan perkembangan ijtihad :

  1. Bidang Politik

Untuk pertama kalinya ijtihad dilakukan terhadap yang pertama timbul dalam Islam : siapa pengganti nabi Muhammad sebagai khalifah atau kepala negara setelah beliau wafat? Kaum Anshar berijtihad bahwa pengganti beliau haruslah salah seorang dari mereka, dengan alasan merekalah yang menolong beliau ketika dikejar-kejar Kaum Quraisy Makkah.

Sedangkan menurut ijtihad Abu Bakar, yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi adalah orang Quraisy, dengan alasan Nabi Muhammad bersabda “para pemuka/ al-aimmah adalah dari golongan Quraisy”. Selama lebih 900 tahun ijtihad Abu Bakarlah yang dipegang oleh ummat Islam, yang dikenal dengan ‘Sunni’.

Adapun menurut ijtihad Ali, yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi ialah keluarga Nabi Muhammad. Ijtihad ini di kemudian hari melahirkan madzhab Syi’ah. Di dalam madzhab ini terdapat perbedaan pendapat, sehingga melahirkan Syi’ah Zaidiyah, Syi’ah Ismailiyah, dan Syi’ah 12.

Dan kaum khawarij tidak menyetujui hasil ijtihad kaum Anshar, kaum Sunni, dan kaum Syi’ah. Mereka (kaum khawarij) berijtihad bahwa muslim manapun, asal memenuhi syarat-syarat yang diperlukan, dapat menjadi khalifah dan tidak ada ketentuan bahwa ia harus orang Arab, Quraisy, ataupun keturunan Nabi.

Tidak lama setelah menjadi khalifah, Abu Bakar menghadapi satu masalah; sebagian orang Islam tidak mau membayarkan zakatnya setelah Nabi Muhammad wafat. Ia menyelesaikan masalah itu melalui ijtihad. Begitu pula Umar ibn al-Khattab. Melalui ijtihad ia menyelesaikan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh meluasnya daerah yang dikuasai oleh tentara Islam. Berlainan dengan ketentuan dan Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad, Umar tidak membagi-bagikan tanah itu kepada tentara yang menaklukkannya.

Sumber :

https://aziritt.net/mengenal-esim-kartu-sim-di-google-pixel-2/