August 9, 2020
Curah Hujan

Curah Hujan

Curah Hujan

Curah Hujan
Kerusakan akibat curah hujan yaitu dapat terjadi ketika curah hujan cukup tinggi, sehingga timbul dampak banjir dan tanah longsor sehingga tumbuhan tingkat bawah atau semai maupun pancang dapat tertimbul yang mana hal ini dapat menyebabkan kerusakan hutan baik mulai dari penurunanan keaneka ragaman polulasinya. Peristiwa yang  ekstrim ini akan mempengaruhi organisma, populasi dan ekosistem. Curah hujan yang sangat deras dengan kisaran 200-400 mm per jam akan dapat merusak dapat merusak tanaman baik yang ada di persemaian maupun pertanaman. Adapun cara menanggulangi hal tersebut adalah sebagai berikut :

  • Memberikan perlindungan terhadap curah hujan yang tinggi dan sarlon sehingga dapat memecahkan butir-butir hujan menjadi lebih kecil.
  • Menghindari pemupukan semai dengan N.

3. Angin

Angin yang dapat merusak hutan adalah yang mempunyai kecepatan 150 km/jam seperti angin cyclone, typhoon, tornado dan hurricane. Hal seperti ini biasanya digolongkan dengan kerusakan alam yang terjadi akibat dari bencana alam. Adapun cara menanggulangi/ mencegah kerusakan hutan yang disebabkan oleh angin yaitu membuat perlindungan dengan menanam pohon dengan jenis campuran, menanam pohon dengan jarak yang rapat, melakukan penjarangan/pemangkasan.

4. Polusi Udara
Kerusakan tumbuhan oleh polutan pada umumnya meningkat seiring dengan peningkatan intensitas cahaya, kelembaban tanah dan kelembaban nisbi udara, suhu dan keberadaan polutan udara yang lain. Ozon yang terserap oleh daun melalui stomata menyebabkan kerusakan membaran sel pada jaringan palisade dan jaringan yang lain. Peroxiaxil nitrat jika terserap tumbuhan akan menyebabkan keruskan jaringan parenkim daun. Menurut (Arthur C. Stern, dkk, 1984) mengatakan yaitu Gangguan pencemaran udara terhadap tumbuhan dapat terjadi karena karena adanya gas/partikel yang menutupi permukaan daun, sehingga menghalangi difusi dari gas yang masuk dan keluar dedaunan. Adapun cara penanggulangan kerusakan hutan yang disebabkan oleh polusi udara yaitu membersihkan uap pabrik atau gas beracun, menurunkan konsentrasinya sampai dibawah konsentrasi yang membahayakan.

Gejala penyakit abiotik terkadang menunjukan kekhususan dan faktor penyebabnya dapat diduga dengan menggunakan acuan cuaca di sekitar tempat tumbuh tanaman, kebiasaan tumbuhan, dan kondisi tanah. Penyakit abiotik dapat disebabkan karena satu atau lebih faktor abiotik yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman secara normal. Oleh karena itu, pengelolaan faktor-faktor abiotik perlu dilakukan untuk menuju ke kondisi lingkungan optimum, misalnya melalui pemupukan, irigasi, penyemprotan bahan kimia tertentu, penanaman pohon pelindung angin, dan lain-lain (Bambang, 2007).

RECENT POSTS