September 23, 2020

Hakikat Aliran Perenialisme

Hakikat Aliran Perenialisme

Perenialisme berasal dan kata perenial yang diartikan sebagaicontinuing througbout the whole year atau lasting for a very long time(abadi atau kekal dan dapat berarti pula tiada akhir. Esensi kepercayaan filsafat perenialisme adalah berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat abadi. Aliran ini mengambil analogi realita sosial budaya manusia, seperti realita sepohon bunga yang terus menerus mekar dari musim ke musim, datang dan pergi, berubah warna secara tetap sepanjang masa, dengan gejala yang terus ada dan sama. Jika gejala dari musim ke musim itu dihubungkan satu dengan yang lainnya seolah-olah merupakan benang dengan corak warna yang khas, dan terus menerus sama.

Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Jadi sikap untuk kembali kemasa Iampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.

Filsafasat pendidikan Perenialisme adalah  mengemukakan bahwa situasi dunia saat ini penuh dengan  kekacauan dan ketidak pastian,dan ketidak teraturan terutama dalam tatanan kehidupan moral,intelektual,dan sosio kultural,untuk memperbaiki keadaan ini dengan kembali kepada nilai nilai atau prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat pada zaman dulu abad pertengahan (Perealisme membicarakan tentang nilai kebenaran,nilai ini sudah ada pada setiap budaya yang ada pada masyarakat).

Ciri Utama  memandang  Perenialisme  bahwa keadaan sekarang adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpang siuran, berhubung dengan itu dinilai sebagai zaman yang membutuhkan usaha untuk mengaman lapangan moral,inteltual dan lingkungan sosial kultural yang lain,ibarat kapal yang akan berlayar zaman memerlukan pangkalan dan arah tujuan yang jelas .

Perenialisme mempunyai ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri itu adalah (Sadullah Uyoh,2004: 23) :

  1. Perenialisme berakar pada tradisi filosofis klasik yang dikembangkan oleh plato, Aristoteles dan Santo Thomas Aquines.
  2. Sasaran pendidikan ialah kemampuan menguasai prinsip kenyataan, kebenaran dan nilai-nilai abadi dalam arti tak terikat oleh ruang dan waktu.
  3. Nilai bersifat tak berubah dan universal.
  4. Bersifat regresif (mundur) dengan memulihkan kekacauan saat ini melalui nilai zaman pertengahan (renaissance).

Kondisi dunia yang terganggu oleh budaya yang tak menentu yaang berada dalam kebingungan dan kekacauan seperti diungkapkan diatas, maka dengan ini memerlukan usaha serius untuk menyelamatkan manusia,dari kondisi yang mencekam dengan mencari dan menemukan orientasi dan tujuan yang jelas,dan ini adalah tugas utama filsafat pendidikan.perenialisme dalam hal ini mengambil jalan regresif dengan mengembalikan arahnya seperti yang menjadi prinsip dasar perilaku yang dianut pada masa kuno dan dan abad pertengahan.

Motif Perenialisme dengan mengambil jalan regresif bukanlah hanya nostaligia atau rindu akan nilai nilai lama untuk diingat atau dipuja,melainkan berpendapat bahwa nilaai tersebut mempunyai kedudukan vital bagi pembaangunan kebudayaan abad ke dua puluh.prinsip prinsip aksiomatis yang terikat oleh waktu itu terkandung dalam sejarah.

Perenialisme memiliki dasar pemikiran yang melekat pada aliran klasik yang ditokohi oleh plato,aristoteles,augustinus,dan aquinas,perenialisme dalaam konteks pendidikan ditokohi oleh Robert maynard Hutchins,Mortimer J.Aadler,dan Sir Richard livingstone.

Prinsip mendasar perenialis kemudian dikembangkan pula oleh Sayyed Husein Nasr seorang filsuf islam kontemporer yanh mengatakan bahwa manusia memiliki fitrah yang sama yang berpangkal pada asal kejadiannya yang fitri yang memiliki konsekuensi logis pada watak kesucian dan kebaikan.perenialisme dalam konteks Sayyed Husein Nasr terlihat hendak mengembalikan kesadaran manusia akan hakikatnya yang fitri akan membuatnya berwatak kesucian dan kebaikan.

Dalam perjalanan sejarahnya,perenialisme berkembang dalam dua sayap yang berbeda yaitu golongan teologis yang ingin menegkkan supremasi ajaran  agama dan dari kelompok yang skuler yang berpegang teguh dengan ajaran filsafat Plato Dan Aristoteles.

SUmber: https://bugscode.id/lenovo-dukung-e-sport-nasional-lewat-kompetisi-gaming-regional/