October 24, 2020
LANGKAH-LANGKAH PENANGANAN SOSIAL BUDAYA MENUJU INTEGRASI

LANGKAH-LANGKAH PENANGANAN SOSIAL BUDAYA MENUJU INTEGRASI

LANGKAH-LANGKAH PENANGANAN SOSIAL BUDAYA
MENUJU INTEGRASI

LANGKAH-LANGKAH PENANGANAN SOSIAL BUDAYA MENUJU INTEGRASI

  1. Mengembangkan Konsensus
    Konsensus adalah kesepakatan bersama antara anggota-anggota sejumlah kelompok atau masyarakat tertentu.
    2.    Mengembangkan peran struktur masyarakat
    Perlu dikembangkan peran struktur masyarakat yang bersifat saling menyilang ( cross- cutting ciffiliations ). Perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, daerah, dan pelapisan sosial yang saling silang menyilang satu sama lain akan menghasilkan suatu keanggotaan yang bersifat silang-menyilang pula.
    3.    Upaya pemerintah menciptakan integrasi
    Upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menciptakan dan mepertahankan integrasi di Indonesia adalah sebagai berikut :
    a.    Melakukan perpindahan penduduk secara terprogram melaluio transmigrasi, khususnya dari Jawa, Bali dan Madura ke berbagai pulau di Indonesia yang di pandang masih jarang penduduknya dan memiliki potensi ekonomi yang besar.
    b.    Membuka daerah-daerah yang terisolir melalui pembangunan sarana transportasi dan komunikasi di darta, laut dan udara.
    c.    Menerapkan otonomi daerah
    d.    Pemerataan pendidikan merupakan lengkah yang strategia, sebab melalui pendidikan akan di tanamkan sikap-sikap positif seperti toleransi, kerjasama, demokrasi dan nilai-nilai agama.
    e.    Pemerataan pembangunan di antaranya dengan membangun zona ekonomi.
    f.    Mendirikan sarana masyarakat sampai ke pelosok

Alternatif Pemecahan Masalah Keragaman Budaya Beberapa alternative penyelesaian masalah dalam menghadapi keragaman budaya, diantaranya sebagai berikut :

  1. Menggali dan mengembangkan budaya etnis melalui kegiatan pendidikan budaya kepada seluruh masyarakat.
  2. Memperbaiki kebijakan pemerintah dalam pemerataan pembangunan. 3. Penanaman sikap toleransi dan empati sosial.

Alternatif Penyelesaian Masalah Keberagaman diIndonesia

 Berbagai persoalan yang timbul akibat keberagaman budaya bangsa

Indonesia yang plural dan majemuk ini memerlukan sebuah model

penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak sehingga konflik

sosial yang selama ini berkembang dapat diminimalkan. Sebuah

masyarakat yang memiliki karakteristik heterogen pola hubungan sosial

antarindividunya di dalam masyarakat, harus mampu mengembangkan

sifat toleransi dan menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secaradamai satu sama lain dengan menerima setiap perbedaan-perbedaan yang melekat pada keberagaman budaya bangsa. Oleh karena itu, diperlukan sebuah konsep yang mampu mewujudkan situasi dan kondisi sosial yang penuh kerukunan dan perdamaian meskipun terdapat kompleksitas perbedaan. Kebesaran kebudayaan suatu bangsa terletak pada kemampuannya untuk menampung berbagai perbedaan dan keanekaragaman kebudayaan dalam sebuah kesatuan yang dilandasi suatu ikatan kebersamaan.Salah satu pengembangan konsep toleransi terhadap keberagaman budaya adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang multicultural dengan bentuk pengakuan dan toleransi, terhadap perbedaan dalam kesetaraan individual maupun secara kebudayaan. Dalam masyarakat multikultural, masyarakat antarsuku bangsa dapat hidup berdampingan, bertoleransi, dan saling menghargai. Nilai budaya tersebut bukan hanya merupakan sebuah wacana, tetapi harus dijadikan pedoman hidup dan Ciri khas masyarakat majemuk seperti keanekaragaman suku bangsa telah menghasilkan adanya potensi konflik antarsuku bangsa dan antara pemerintah dengan suatu masyarakat suku bangsa. Potensi-potensi konflik tersebut merupakan permasalahan yang ada seiring dengan sifat suku bangsa yang majemuk. Selain itu, pembangunan yang berjalan selama ini menimbulkan dampak berupa terjadinya ketimpangan regional (antara Pulau Jawa dengan luar Jawa), sektoral (antara sektor industry dengan sektor pertanian), antarras (antara pribumi dan nonpribumi), dan antarlapisan (antara golongan kaya dengan golongan miskin). nilai-nilai etika dan moral dalam perilaku masyarakat Indonesia. Dalam prinsip multikulturalisme

ini penegakan prinsip-prinsip demokrasi menjadi tujuan utama nilai-nilai

sosial. Dalam melaksanakan prinsip demokrasi terdapat beberapa

persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, sistem negara menganut

prinsip demokrasi partisipatif. Dalam sistem demokrasi partisipatif,

hukum adalah supremasi tertinggi dengan tidak memihak pada

kelompok tertentu. Semua kelompok masyarakat, baik mayoritas atau

minoritas, kaya atau miskin dikendalikan melalui prinsip-prinsip

hukum yang objektif. Kedua, adanya distribusi pendapatan dan sarana

ekonomi yang relatif merata. Artinya, tidak terjadi ketimpangan sosial

ekonomi antarlapisan, golongan, dan daerah. Oleh karena itu, dapat

disimpulkan bahwa faktor ekonomi dan politik sangat penting dalam

mengelola masyarakat majemuk tersebut.

Selain itu, alternatif penyelesaian keberagaman budaya yang ada di

Indonesia dilakukan melalui interaksi lintas budaya dengan

mengembangkan media sosial, seperti pengembangan lambang-lambang

komunikasi lisan maupun tertulis, norma-norma yang disepakati dan

diterima sebagai pedoman bersama, dan perangkat nilai sebagai kerangka acuan bersama. Sebenarnya interaksi lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tersebar di Kepulauan Nusantara bukan merupakan hal yang baru. Jauh sebelum kedatangan orang Eropa, mobilitas penduduk di Kepulauan Nusantara tersebut cukup tinggi yang tercermin dalam toponomi perkampungan suku bangsa atau golongan sosial perkotaan di Indonesia. Gejala tersebut bukan hanya membuktikan betapa tingginya Berdasarkan pola-pola pemukiman yang tercermin dalam toponomi perkampungan suku bangsa terdapat pola pembagian kerja yang cukup rapi antara anggota suku bangsa dan golongan sosial yang membentuk corporate group perkotaan Indonesia di masa lampau. Pembagian kerja

atau spesialisasi yang menjadi sumber mata pencaharian yang ditekuni

oleh masing-masing kelompok suku bangsa atau golongan sosial tersebut telah mendorong mereka untuk mendirikan perkampungan yang

memberikan kesan eksklusif. Walaupun perkampungan eksklusif

kesukuan ataupun golongan tersebut kini telah berkurang (survival),

namun dalam perkembangan di perkotaan nampak adanya kecenderungan para pendatang baru untuk hidup berkelompok dalam suatu perkampungan. Hal ini didorong oleh adanya kesamaan profesi.

Misalnya, di kota Surakarta terdapat perkampungan batik Laweyan,

perkampungan Islam Kauman atau perkampungan pecinan.

mobilitas penduduk di masa lampau, melainkan juga mencerminkan adanya pola-pola interaksi sosial lintas budaya.


Sumber: https://penirumherbal.co.id/