October 24, 2020

Al Mahabah

Table of Contents

Al Mahabah

Mahabah berasal dari kata ahabba ,yuhibbu,mahabatan  yang secara harifah berarti mencintai secara  mendalam.Dalam mu’jam al-falsafi ,jamil shaliba mengatakan mahabah adalah lawan dari al-baghd yakini cinta lawan dari benci.Al mahabbah dapat pula berarti al wadud yakni yang sangat kasih atau penyayang.Al Mahabah adalah perasaan kasih sayang atau cinta kepada allah SWT.

Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pulaberarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak yaitu cinta kepada tuhan.Kata mahabah selanjutnya digunakan untuk menunjukan pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhaniah pada tuhan.

Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al qusyairi sebagai berikut:al mahabbah adalah merupakan hal(keadaan)jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan)allah SWT oleh hamba ,selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihinya dan yang seorang hamba mencintai allah swt.

Harun Nasution mengatakan mahabbah adalah cinta yang dimaksud adalah cinta kepada tuhan antara lain sebagai berikut

  1. Memeluk kepatuhan pada tuhan fdan membenci sikap melawan pada-NYA
  2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi
  3. Mengosongkan hari dari segala-galanya kecuali diri yang dikasihi allah.

Dilihat dari tingkatannya mahabbah sebagai dikemukakan al sarraj sebagai dikutip harun nasution ada tiga macam yaitu :

  1. Mahabbah orang biasa yaitu selalu mengingat allah dengan zikir ,suka menyebut nama-nama allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan tuhan.
  2. Mahabbah orang shidiq yaitu cinta orang yang kenal pada tuhan ,kebesarannya ,kekuasaannya ,ilmu nya dan lain-lain.
  3. Mahabbah orang arif adalah cinta yang tau betul kepada tuhan.

Kedudukan Mahabbah

Al Mahabbah adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan ma’rifah baik dalam kedudukan maupun pengertiannya.Ma’rifah adalah merupakan tingkatan pengetahuan kepada tuhan melalui mata hati(qolbi) ,maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan tuhan melalui cinta (roh).Rasa cinta itu tumbuh karena pengetahuan dan pengenalan kepada tuhan sudah sangat jelas mendalam,sehingga yang dilihat dan dirasakan bukan lagi cinta ,tetapi diri yang dicintai.Oleh karena itu, menurut al gazali mahabbah itu menifestasi dari ma’rifah kepada tuhan  dengan demikian kedudukan mahabbah lebih tinggi dari ma’rifah

  1. Az Zauk

  Dzauq dalam tasawuf adalah proses merasakan kelezatan nilai-nilai Ilahiyan sebagai hasil dari proses suluk (salikin) yang dilaksanakan. Makna ini bernilai positif karena berkaitan dengan kenikmatan seseorang dalam mencapai hakikat dan maqom  yang lebih tinggi ke hadirat Allah Swt.  Dalam Al Qur’an kata dzauq tidak selalu bernilai positif. Banyak dari Firman Allah Swt berkenaan dengan kata dzauq ini yang berhubungan dengan siksa (adzab). Sebagaimana didapat dalam Qur’an :

(Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan.”

Dalam ayat lain :

“ Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”

Semua ini menunjukkan bahwa ada perbedaan arti dalam pemakaian istilah antara tasawuf dan di dalam Al Qur’an. Pada ayat yang pertama, di dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan adzab yang disegerakan itu berkaitan dengan Nabiyullah Yunus. Dimana Nabi Yunus mempunyai seorang istri yang sangat galak yang selalu memarahi beliau. Ketika hal itu ditanyakan oleh pengikutnya mengapa istri beliau bersikap demikian, Nabi Yunus mengatakan bahwa hal ini merupakan ujian Allah Swt kepadanya sebagi bentuk pengabulan atas doa yang ia panjatkan.  Nabi Yunus pernah berdoa, “ Ya Allah, andaikat aku Kau taqdirkan untuk disiksa di neraka, maka segerakanlah siksa itu di dunia agar aku tak merasakannya lagi di akhirat.” “Rupanya inilah siksa dunia yang diberikan Allah Swt kepadaku  sebagai ganti siksaku di akhirat” terang Nabi Yunus kepada sahabatnya.

          Perbedaan penggunaan makna antara Al Qur’an dan tasawuf bukanlah perbedaan yang meninggikan dan merendahkan satu dengan lainnya. Al Qur’an adalah sumber tertinggi di dalam dunia Islam, termasuk dalam khazanah tasawuf. Sebagaimana inti dari tasawuf adalah pembentukan akhlak mulia yang   digali dari  nilai-nilai Al Qur’an.  Sehingga Rasulullah dalam kaitannya dengan akhlak dikatakan sebagai Al Qur’an yang berjalan.  Tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu tetap tunduk kepada Al Qur’an. Tasawuf yang tidak berpijak pada Al Qur’an dan menyalahi sumber hukum tertinggi itu,  akan dikatakan sebagai ajaran yang menyimpang.

          Perbedaan yang terjadi tidak menyentuk masalah hakikat, hanya sebatas penggunaan term pada istilah-istilah tertentu. Dan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah tasawuf sendiri sebagai  disiplin ilmu yang harus dijaga kemurniannya. Dengan menggunakan  istilah dan term yang secara harfiah bertentangan itu, sebenarnya tasawuf ingin menghindarkan dari penafsiran  keliru orang yang awan. Sebagai contoh kata mabuk dan anggur yang sering dipakai dalam dunia tasawuf. Arti dari keduanya tentu berbeda dengan mabuk dan anggur  yang dimaksudkan dalam Al Qur’an. Anggur dalam dunia tasawuf adalah dzikir, sedangkan mabuk adalah  keadaan dalam  mencapai keadaan menuju Allah Swt.

Baca juga: