September 30, 2020

Al Fan’na

Al Fan’na

Dari segi bahasa al-fana berhati hilangnya wujud sesuatu.Fana adalah dari berhenti wujudnya.Adapun artinya fana menurut kalangan shufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri.Menurut pendapat lain fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat yang tercela.

Dalam pada itu Mustafa zahri mengatakan bahwa yang dimaksud fana adalah lenyapnya indrawi atau kebasyariahaan,yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syhwat dan hawa nafsu.Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan sehingga tiada lagi melihat dari pada alam baharu,alam rupa dan wujud ini maka dikatakan ia telah fana dari alam cipta atau dari alam makhluk.Selain itu fana juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk lahir batin.

Adapun menurut para ahli Al Thusi fana adalah “fananya sifat jiwa” sementara itu Al Qur’an merumuskannya dengan “sirnanya sifat-sifat tercelah”lebih lanjut ,ia menambahkan dengan hilangnya sifat-sifat tercelah tersebut maka diisi dengan sifat-sifat terpuji.Kedua sifat tersebut senantiasa ada pada manusia dan tidak mungkin ada alternatif ketiga.Jika seseorang fana dari sifat-sifat tercela ,maka yang muncul adalah sifat-sifat terpuji ,dan barang siapa yang cenderung kepada sifat tercela ,maka sifat terpujinya tertutupi ,dan demikian pula sebaliknya.Abu bakr al-kalabazi (w.378 H /998 M) menjelaskan pengertian al-fana ,sebagaimana dimaksudkan dalam tasawuf ,adalah “hilangnya semua keiginan hawa nafsu  seseorang tidak ada ,pamrih dari segala perbuatan manusia ,sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar ,dan ia telah  menghilangkan semua kepentingan dalam ia berbuat sesuatu”.

Dalam rumusan lain disebutkan ,fana diartikan sebagai kesirnaan manusia dari kehendaknya ,dan kekekalan  kehendaknya dengan kehendak allah sebagaimana dijelaskan oleh al-thusi :”fana berarti sirnanya pandangan seseorang terhadap tindakan-tindakannya,karena allah menghendaki itu terhadapnya”.

Penghancur diri (al fana) juga berarti sebagai kemanusiaan ,berganti dengan sifat-sifat ketuhanan.Sebab di kalangan suhfi di kenal ungkapan “dia fana dari sifat-sifat kemanusiaan yang ada pada dirinya dan akan baqa dalam sifat-sifat yang maha Haq .

Pengertian fana menurut para ahli :

  1. Al qusyairi fana adalah gugurnya sifat-sifat tercelah sedangkan baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji.
  2. Junaidi al bagdadi tauhid bisa dicapai dengan  membuat diri fana dari dirinya sendiri dan alam sekitarnya ,sehingga keinginannya dikendalikan oleh allah.
  3. Ibnu al farabi fana dalam pengertian mistik adalah hilangnya ketidaktauan dan baqa pengetahuan yang pasti/sejati yang diperoleh dengan intuisi mengenai kesatuan esensial dari keseluruhan ini.
  4. Abu bakar m.kalabadzi fana adalah suatu keadaan yang di dalamnya seluruh hasrat atau keinginan luruh dan hancur darinya ,sehingga para sufi tidak mengalami perasaan apa-apa dan kehilangan kemampuan membedakan.

Tingkatan –Tingkatan fana

  1. Fana fi af-alillah

Fana dari tingkat pertama ini ,seseorang telah mulai dalam situasi dimana akal pikiran mulai tidak berjalan lagi,melainkan terjadi sebagai “ilham” tiba-tiba nur ilahy terbit dalam hati sanubari muhadara atau kehadiran hati berserta allah dalam situasi mana, gerak dan diam telah lenyap menjadi gerak dan diamnya.

  1. Fana Fissifat

Fana pada tingkatan dua ini,seseorang mulai dalam situasi putusnya diri dari alma indrawi dan mulai lenyapnya segala sifat kebendaan ,artinya dalam situasi menafikan diri dan meng-istimbatkan sifat allah memfanakan sifat-sifat diri kedalam kebaqaan allah yang mempunyai sifat sempurna.

  1. Fana Fil-asma

Fana pada tingkatan tiga ini ,seseorang telah dalam situasi fananya segala sifat-sifat keinsanannya.Lenyap dari alam wujud yang gelap ini,masuk ke dalam alam ghaib atau yang penuh dengan nur cahaya.

  1. Fana Fizzat

Fana pada tingkatan keempat ini ,seseorang telah beroleh perasaan batin pada suatu keadaan yang tak berisi ,tiada lagi kanan dan kiri, tiada lagi muka dan belakang, tiada lagi atas dan bawah, pada ruang yang terbatas tidak bertepi.Dia telah lenyap dari dirinya sama sekali ,dalam keadaan mana hanya dalam kebaqaan allah semata-mata.Dapat disimpulkan bahwa segal-galanya telah hancur lebur,kecuali wujud yang mutlak.

Sejumlah Sufi mengisyaratkan Fana’ pada gugurnya sifat-sifat tercela, sementara baqa’ diisyaratkan sebagai kejelasan sifat-sifat terpuji. Kalau pun seorang hamba tidak terlepas dari salah satu sifat tersebut , maka dapatlah dimaklumi, sebenarnya, salah satu bagian apabila tidak dijumpai dalam diri manusia, maka dapatlah ditemui sifat satunya lagi. Barangsiapa fana’ dari sifat-sifat tercela, maka yang tampak adalah sifat-sifat terpuji. Sebaliknya, jika yang mengalahkan adalah sifat-sifat yang hina, maka sifat-sifat yang terpuji akan tertutupi.

Sumber: https://carbomark.org/