September 28, 2020
Mengukur Kelayakan Usaha

Mengukur Kelayakan Usaha

Table of Contents

Mengukur Kelayakan Usaha

Mengukur Kelayakan Usaha

Dalam konteks keuangan sederhana, kelayakan suatu usaha adalah ketika terjadi kondisi dimana hasil yang diperoleh lebih besar dari dana yang diinvestasikan. Semakin besar kelebihan dari dana yang kita investasikan, akan semakin menguntungkan investasi dalam usaha tersebut. Secara matematis, investasi yang menguntungkan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

Keuntungan    = Pendapatan – Total Biaya

                        = (Jumlah Barang Terjual x Harga) – Total Biaya

Pendapatan investasi diperoleh dari perkalian antara jumlah barang yang terjual dengan harga per unit barang tersebut. Sementara itu, total biaya yang digunakan dalam usaha dapat dibagi menjadi dua, biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost).

Biaya tetap merupakan komponen biaya yang harus ditanggung oleh pelaku usaha yang nilainya tidak dipengaruhi oleh aktivitas bisnis, khususnya besarnya barang yang diproduksi/dijual. Artinya, banyak atau sedikit barang yang dihasilkan tidak menentukan besarnya biaya tetap tersebut. Biaya tetap ini biasanya terkait dengan aspek waktu, misalnya biaya tenaga kerja tidak langsung per bulan, biaya administrasi per bulan, biaya sewa toko per bulan, dan biaya pemasaran. Sementara itu, biaya variabel adalah komponen biaya yang harus ditanggung oleh pelaku usaha yang nilainya dipengaruhi oleh aktivitas/ volume bisnis. Contoh dari biaya variabel adalah biaya tenaga kerja langsung, biaya material, biaya bahan habis pakai, dan biaya listrik dan air.

Biaya total merupakan penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel yang ada. Hubungan antara biaya tetap dan biaya variabel dapat dilihatpada gambar dibawah ini

Contoh :

Suatu usaha penyamakan kulit membutuhkan biaya material sebesar Rp. 10 ribu per lembar kulit. Proses penyamakan dilakukan di toko yang disewa sebesar Rp. 1 juta per bulan. Untuk kepentingan administrasi umum dibutuhkan biaya Rp. 250 ribu dan biaya tenaga kerja untuk melakukan aktivitas penyamakan adalah Rp. 2 ribu per lembar kulit. Berapa total pendapatan, total biaya, dan keuntungan yang dihasilkan oleh usaha tersebut ?

Penjualan         = harga barang per unit x jumlah barang terjual

                        = 15.000 x 1.000

                        = 15.000.000

Biaya tetap      = biaya administrasi umum + biaya sewa toko

                        = 250.000 + 1.000.000

                        = 1.250.000

Biaya variabel = biaya material + biaya tenaga kerja langsung

                        = 10.000.000 + 2.000.000

                        = 12.000.000

Total biaya      = biaya tetap + biaya variabel

                        = 1.250.000 + 12.000.000

                        = 13.250.000

Keuntungan    = pedapatan – total biaya

                        = 15.000.000 – 13.250.000

                        = 1.750.000

 

  1. Analisis Titik Impas (Break – Even Point)

Pada bebrapa kasus, pengusaha tidak hanya ingin mengetahui berapa keuntungan yang mungkin diperoleh. Pengusaha ingin mengetahui, dalam kondisi seperti apa dia mencapai titik impas. Dalam pengelolaan keuangan, apa yang diinginkan oleh pengusaha tersebut akan dengan mudah terjawab melalui perhitungan titik impas (break – even pint), yaitu kondisi dimana nilai keuntungan bernilai nol. Secara matematis, kondisi impas terjadi ketika nilai pendapatan sama besar dengan nilai biaya.

Keuntungan                = Pendapatan – Biaya, jika nilai keuntungan adalah nol, maka

Pendapatan                 = Total Biaya

(Harga x Kuantitas)    = Biaya Tetap + (Biaya variabel per unit x Kuantitas)

Kuantitas Impas          = Biaya Tetap/ (Harga – Biaya variabel per unit)

Merujuk pada contoh sebelumnya, maka kuantitas yang dibutuhkan agar terjadi kondisi impas dapat dihitung sebagai berikut :

Kuantitas         = 1.250.000 / (15.000-12.000)

                        = 416,6 dibulatkan menjadi 417 unit