September 29, 2020
Sebab-sebab Penyakit Masyarakat

Sebab-sebab Penyakit Masyarakat

Sebab-sebab Penyakit Masyarakat

Sebab-sebab Penyakit Masyarakat
Sebab-sebab Penyakit Masyarakat

Tampaknya tidak semua komponen masyarakat menyadari adanya penyakit masyarakat tersebut.  Dengan kata lain sebagian mereka tidak merasakan bahwa masyarakat mereka sedang sakit.  Hal ini antara lain adalah buah dari proses sekulerisasi di masyarakat yang begitu hebat.  Gaya hidup hedonis dan liberal telah menjadikan sebagian anggota masyarakat menganggap penyakit masyarakat tersebut biasa saja, sebagai bagian dari kebebasan individu dalam masyarakat.  Di sisi lain sikap individualis juga telah menjadikan masyarakat tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya.

Jika penyakit fisik dengan mudah dapat dirasakan secara fisik oleh fisik yang sebelumnya sehat, maka penyakit masyarakat ini sebenarnya juga dengan mudah dapat dirasakan oleh masyarakat yang sebelumnya sehat.  Masyarakat yang sehat itu sendiri adalah masyarakat yang memiliki pemikiran, perasaan dan tata aturan yang sehat.  Sayangnya masyarakat kita telah dan sedang bergeser menuju ke arah pemikiran, perasaan dan tata aturan yang tidak sehat baginya.  Inilah yang dirasakan di Bogor, di Indonesia pada umunya dan bahkan di negeri-negeri muslim hampir di seluruh dunia.  Oleh karena itu untuk mencegah agar penyakit tersebut di atas tidak mewabah lebih luas di masyarakat, maka diperlukan upaya sungguh-sungguh menghadangnya.

Solusi Terhadap Penyakit Masyarakat

Jika penyakit fisik kebanyakan disebabkan oleh bakteri atau virus, maka penyakit masyarakat ini juga disebabkan oleh bakteri yang berupa pemikiran-pemikiran rusak serta virus yang berwujud standar nilai-nilai kehidupan rusak yang berasal dari luar Islam.  Keduanya secara bersama-sama turut mempengaruhi perasaan masyarakat dalam memandang kehidupan ini.

Mensikapi keadaan di atas, paling tidak ada dua upaya yang bisa ditempuh, yaitu upaya pencegahan serta pengobatan.  Jika untuk penyakit fisik, pencegahan dan pengobatan biasanya melibatkan dokter dan perawat, maka untuk penyakit masyarakat yang banyak terlibat adalah aparat-aparat yang ada di masyarakat yaitu kepolisian dan kehakiman.  Tetapi penyakit fisik dan penyakit masyarakat sebenarnya berada dalam satu naungan pengaturan yaitu negara.  Untuk penyakit fisik, negara mengatur pengadaan rumah sakit, puskesmas, klinik dan lain-lain sedangkan untuk penyakit masyarakat, negara menyediakan penjara yang diperlunak dengan sebutan lembaga pemasyarakatan.  Lembaga pemasyarakatan adalah lembaga bagaimana mewujudkan kembali masyarakat yang sehat.  Tetapi upaya ini lebih terkesan sebagai pengobatan.  Upaya-upaya pencegahan terasa sangat kurang mendapatkan perhatian. Padahal upaya ini sebenarnya lebih utama dilakukan agar masyarakat tetap dalam kondisi sehat.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit masyarakat memang harus dilakukan bersama antara individu, masyarakat dan negara dimana negara merupakan benteng terakhir dan terkuat dalam upaya pencegahan penyakit masyarakat karena di tangan negara terdapat otoritas pemeliharaan urusan rakyat.

  1. Dalam tataran individu rakyat harus ditanamkan tingkat ketaqwaan invididu yang terus menerus bahwa setiap perbuatannya akan diminta pertanggung jawaban oleh Sang Khaliq di hari akhir kelak.  Pembinaan individu ini dapat dilakukan di setiap institusi, dari institusi keluarga, sebagai komunitas terkecil hingga negara melalui instansi-instansi yang dimilikinya.  Pensuasanaan ketaqwaan individu bisa dilakukan sejak kecil dalam keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW dan seterusnya.  Pendidikan sekolah juga berperan sangat dominan, meskipun harus disertai proses pendidikan extra sekolah yang melibatkan warga masyarakat secara luas.  Pendidikan terus menerus perlu mendapat fasilitas yang lebih memadahi seperti di masjid, musholla serta majlis taklim dengan perpustakaan, pembimbing yang memadai dan sebagainya.  Tentu hal ini memerlukan peran serta negara serta masyarakat.
  2. Di tingkat masyarakat perlu dikembangkan sikap mudah melakukan kontrol terhadap setiap keadaan masyarakat sebagai bagian dari amar ma’ruf, nahi munkar.  Sebagai realisasi terhadap kontrol ini, peran tokoh-tokoh masyarakat formal seperti ketua RT, RW, Kelurahan dan seterusnya maupun non formal seperti para kyai dan ustadz atau tokoh masyarakat selainnya sangat diperlukan peran sertanya.  Perlu juga ditumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat ibarat penumpang sebuah perahu yang apabila ada anggotanya hendak merusak perahu itu maka seluruh anggotanya akan tenggelam, bukan hanya orang-orang yang melakukan kerusakan itu saja.
  3. Pada tingkat negara perlu diterapkan aturan yang benar-benar bisa mencegah munculnya penyakit tersebut, sekaligus sebagai penebus bila penyakit masyarakat itu terlanjur ada. Aturan itu berupa sanksi terhadap para pelakunya.  Cukup banyak juga penyakit tersebut muncul dengan alasan ekonomi.  Maka kebijakan ekonomi negara untuk mengadopsi sistem ekonomi yang benar-benar bisa menjamin kebutuhan pokok masyarakat harus segera diwujudkan.

Sanksi Terhadap Penyakit Masyarakat

Penerapan aturan oleh negara yang berhubungan dengan tindakan penyakit masyarakat tersebut di atas dapat dilakukan dengan penerapan syariah dalam bidang uqubat (sanksi).  Ada beberapa yang telah tegas hukumnya oleh syariah, dan ada beberapa yang memerlukan ijtihad dari para qadli (hakim), yang secara ringkas adalah sebagai berikut:

  1. Sanksi terhadap main (berjudi)adalah sesuai dengan ijtihad qadli (hakim).  Sebagian kitab fiqih menyebutkan sanksi perjudian adalah dijilid (didera atau dicambuk) 40 kali.
  2. Sanksi madat (narkoba) dan mabuk (minuman keras)adalah sesuai dengan ijtihad qadli (hakim), tetapi dalam sebagian kitab fiqih disebutkan sanksinya adalah tidak kurang dari 40 kali jilid (dera atau cambuk).
  3. Sanksi madon (berzina)adalah dirajam bila telah menikah dan dijilid 100 kali bila belum menikah.  Sebagian kitab fiqih menambahkan diasingkan bagi pelaku zina yang belum menikah setelah di dijilid 100 kali.
  4. Sanksi maling (mencuri) adalah dipotong tangan bila barang yang dicuri melampaui nishab.

Sebenarnya masih banyak rincian lebih mendalam dari persanksian di atas sebagaimana dibahas secara mendalam juga dalam kitab-kitab fiqih mengenai uqubat (sanksi) ini.

Dengan diterapkannya hukum-hukum tersebut, serta hukum-hukum yang lainnya dari syariah Islam, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari penyakit masyarakat atau paling tidak dapat meminimalisirnya.  Wallaahu a’lam.

Baca Juga :