September 26, 2020
Selamatkan Pelajar dari Obat Terlarang

Selamatkan Pelajar dari Obat Terlarang

Selamatkan Pelajar dari Obat Terlarang

Selamatkan Pelajar dari Obat Terlarang
Selamatkan Pelajar dari Obat Terlarang

SMK Bisnis dan Teknologi (Bistek) Kota Bekasi berkomitmen untuk menyelamatkan anak didiknya dari obat terlarang melalui program Nyantri.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMK Bistek Riyono menjelaskan, program itu berawal dari sistem pembelajaran yang kurang efektif di ruang kelas. Suasana ruang kelas sepi, siswa lebih banyak diam saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Dari hasil penelusuran oleh para guru diketahui ternyata disebabkan oleh siswa

yang menggunakan obat-obatan terlarang “Dulu sempat kita menemukan siswa yang membawa obat sejenis excimer, disitulah kita kebingungan harus berbuat apa, kemudian kita konsultasi ke badan rehabilitasi narkotika mereka menyebutkan bahwa benar anak ini menggunakan obat tersebut,” kata Riyono kepada Radar Bekasi, Selasa (29/10).

Diketahui, excimer merupakan obat golongan antipsikotik fenitiazina yang digunakan untuk mengobati gangguan mental seperti perilaku agresif yang membahayakan, kecemasan dan kegelisahan, skizofrenia, psikosis, serta autisme, dan juga mengatasi mual, muntah dan cegukan yang lama. Berdasarkan pengakuan siswa, kata dia, pada masa SMP maupun MTs banyak teman-temannya menggunakan jenis obat itu.

Dari situ, sekolahnya berinisiatif untuk membuat program Nyantri bekerja sama dengan pusat

rehabilitasi Mental Health Care Madani. Program yang berlaku khusus kelas 10 ini sudah berjalan sejak lima tahun lalu.

“Program tersebut sebagai salah satu wadah bagi siswa untuk bersandar, sehingga mereka mau menceritakan apa yang tidak mereka ceritakan kepada orang lain bahkan orang tuanya,” ujarnya.

Program tersebut sebagai wujud untuk menyelamatkan anak bangsa dari kecanduan barang haram.

Ia pun bersyukur program ini dapat membuat siswa menjadi lebih baik selama di dalam maupun luar kelas.

“Kita ingin anak bangsa menjadi lebih baik bukan untuk di sia-siakan dan ternyata hasilnya baik,” ucapnya.

Riyono mengungkapkan, program tersebut membuat SMK Bistek dijuluki sebagai sekolah narkotika. Kondisi itu pun berdampak pada minat siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/