December 2, 2020
GULA ITU JAHAT

GULA ITU JAHAT, LEBIH MENAKUTKAN KETIMBANG BAHAYA ROKOK

GULA ITU JAHAT, LEBIH MENAKUTKAN KETIMBANG BAHAYA ROKOK

Bahaya rokok dikampanyekan secara masif. Rokok membuat kecanduan. Padahal, kami kudu lebih wasapada kepada bahaya yang dibawa oleh gula.

Gaung kampanye anti-tembakau itu terlalu kencang. Bahkan, kabar terakhir menyatakan jika iklan rokok akan diblokir.

GULA ITU JAHAT

Kanal komunitaskretek.or.id merilis editorial untuk menampik pemblokiran iklan rokok di internet itu. “Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01/Menkes/314/2019 perihal pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kementerian komunikasi dan infomatika (Kominfo) untuk memblokir iklan rokok di internet.”

“Kemenkominfo menindaklanjuti surat edaran Menkes bersama dengan memblokir iklan atau konten rokok di sejumlah platform fasilitas sosial yang melanggar ketetapan PP No. 109 Tahun 2012. Melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika), Kominfo menelusuri (crawling) konten iklan rokok di internet. Hasilnya terdapat 114 kanal yang berisi konten tersebut di Facebook, Instagram, sampai Youtube.”

Bahaya rokok seperti jadi momok. Padahal, di luar sana, ada satu “benda yang jahat”, melebihi bahaya rokok. Benda itu namanya gula. Ada tanda kutip di sana untuk meyakinkan jika baik tembakau maupun gula tidak seluruhnya jahat. Manusia yang membuat ke-2 hasil alam itu jadi “jahat” karena style hidup yang tidak sehat.

Menurut sebuah peneliti, kerusakan akibat gula serupa seperti dampak kecanduan alkohol. Yang lebih mengkhawatirkan, mengonsumsi gula di semua dunia tingkatkan tiga kali lipat selama 50 tahun terakhir dan dipandang sebagai penyebab pandemi obesitas.

Sementara itu, bahaya rokok sebetulnya tidak sanggup disepelekan. Rokok juga terlibat dalam banyak kanker, pada lain kanker paru-paru, kanker kandung kemih, kanker prostat dan segi risiko kanker lainnya. Namun, bahaya rokok sanggup dikurangi karena tidak terbukti benda ini membuat kecanduan.

Fakta itu sudah diperkuat bersama dengan argumen para peneliti di British Medical Journal yang menyatakan penggunaan kata adiktif kepada rokok tidak tepat. Para peneliti memberikan perokok terlalu mudah untuk berhenti.

Nah, ada satu hal yang menarik jika bicara perihal adiktif dan bahaya rokok. Karena rokok terus-terusan dikampanyekan dan kerap tidak sadar bahwa kami juga menyebut rokok itu adiktif, kami luput melihat bahwa banyak produk dan kebiasaan yang membuat adiktif. Salah satunya adalah gula.

Ketika dikonsumsi secara berlebihan, gula jadi merupakan racun mematikan. Medical News Today melaporkan, dalam sebuah editorial di Nutrisi, Dr. Undurti N. Das menyoroti fakta bahwa fruktosa, konstituen gula meja, atau sukrosa, mengubah metabolisme sel dan tingkatkan kesibukan protein pemicu kanker.

Sulit untuk menghindari gula karena zat ini terdapat di banyak makanan, seperti soda, permen, cokelat, biskuit, kue, dan lainnya. Bahkan, sebagian makanan diet dikemas bersama dengan zat yang menjadi manis ini.

Selain membuat obesitas, gula juga membuat pergantian metabolisme tubuh, tingkatkan tekanan darah, hormon tidak seimbang, dan merusak hati. “Gula bukan cuma membuat orang gemuk, dampaknya lebih besar dari sebatas makin besar ukuran lingkar pinggang. Sedikit gula tidak jadi masalah, tetapi dalam kadar banyak sanggup membunuh Anda secara perlahan,” sadar peneliti dari University of California San Francisco dalam jurnal Nature.

Baca Juga :