Larangan Mengkhianati Amanah

Table of Contents

Larangan Mengkhianati Amanah

Di zaman Rasulullah saw hiduplah seorang penggembala. Melihat keluhuran budi pekerti Rasulullah saw dan keagungan akhlak beliau, pada akhirnya penggembala itu masuk Islam tanpa sepengetahuan majikannya. Setelah ia mengikrarkan keislamannya, ia pun mengajukan usul yang ia kira sanggup menguntungkan umat Islam.

Saat itu permusuhan pada kaum musyrikin Quraisy di Mekah dan kaum muslimin di Medinah jadi memuncak supaya mengarah pada peperangan. Atas dasar itulah si penggembala hendak memberikan kontribusi pertamanya pada Islam.

la bicara kepada Rasulullah saw, “Saya adalah penggembala yang mengurus ratusan domba kepunyaan orang musyrik yang terlalu membenci dan memusuhi risalahmu.”

“Lalu?” Rasulullah saw. meminta penjelasan lebih lanjut.

“Saya percaya umat Islam kini sedang perlu dana untuk persiapan peperangan,” jelasnya lagi.

“Lalu?” bertanya beliau lagi.

“Majikan aku belum mengerti bahwa aku sudah memeluk Islam. Aku berpikir bagaimana jika domba yang ia percayakan kepadaku diberikan untuk keperluan kaum muslimin sebagai tambahan modal untuk berperang melawan mereka?”

Rasulullah saw tersenyum mendengar usul tersebut. Sungguh kesyukuran atas nikmat iman Islam yang sudah mengobarkan dorongan juangnya. Akan tetapi, Rasulullah saw adalah orang mulia yang tetap menghargai tinggi kejujuran dan amanah.

Oleh sebab itu, beliau menolak usul itu bersama halus dan juga memberi nasihat kepada penggembala itu, “Seorang muslim haruslah bersikap amanah. Jadi, kau mesti melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadamu. Artinya, kau mesti mengembalikan seluruh domba kepada pemiliknya di dalam jumlah dan situasi yang serupa tidak tidak cukup suatu apa pun.”

Baca Juga :

Posted on: September 10, 2019, by :