Serba Serbi Kuliah Jurusan Kedokteran

Serba Serbi Kuliah Jurusan Kedokteran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dokter diartikan sebagai lulusan pendidikan kedokteran yang ahli dalam hal penyakit dan pengobatan.

Dari sini sudah jelas bahwa untuk menjadi dokter, kamu harus menempuh pendidikan kedokteran, yang notabene cukup lama dibandingkan kuliah pada umumnya.

Lingkup kerjanya pun meliputi penyakit dan pengobatan pada tubuh manusia.

Masih ingat pelajaran Biologi SMA kelas 12 yang membahas berbagai sistem dan jaringan pada tubuh manusia?

Nah, sebagai dokter, kamu diharapkan untuk memahami bagaimana cara kerja tubuh manusia dan berbagai gangguan di dalamnya, serta solusi untuk menanganinya.

Apa yang Perlu Dipersiapkan untuk Kuliah Kedokteran?
Pemahaman yang Kuat di Bidang Kimia, Fisika, dan Matematika
Apakah minatmu pada pelajaran Biologi dijamin akan sukses menjadikanmu dokter yang hebat? Belum tentu!

Kenyataannya, kamu juga perlu modal pemahaman konsep yang baik seputar kimia, fisika, dan matematika.

Kepada Zenius, Thomas Chaidir, lulusan S1 Kedokteran di Universitas Padjajaran membagikan pengalamannya seputar kuliah di bidang ini.

Menurutnya, nilai ulangan Biologi yang bagus di SMA ternyata tidak cukup untuk menjadi modal untuk kuliah kedokteran.

Jawabannya sederhana: karena tubuh manusia adalah sesuatu yang kompleks, yang terdiri dari organ, jaringan, dan sistem yang saling bergantung satu sama lain.

Untuk itulah, kamu juga sebaiknya mampu memahami konsep pelajaran kimia, fisika, dan matematika agar bisa memahami interaksi dan reaksi yang terjadi di dalam tubuh.

Contohnya saja, ion mengatur komunikasi antar sel, reaksi kimia yang memicu proses biologis, hingga dosis obat yang tepat untuk menghasilkan reaksi yang diinginkan. Ini baru seputar kimia, bagaimana kaitannya dengan fisika?

Beberapa contoh penerapan konsep fisika yang akan kamu temui saat kuliah kedokteran yaitu konsep fisika kuantum untuk memahami cara kerja alat x-ray, serta konsep vektor untuk memahami sistem EKG dan alat rekam jantung.

Kemampuan Berpikir Sistematis
Setiap sel dan sistem yang ada di dalam tubuh manusia saling berhubungan, dan bahkan bergantung satu sama lain.

Ibarat mesin pabrik yang bekerja dalam alur tertentu untuk menghasilkan sesuatu, begitu juga halnya dengan tubuh manusia.

Karena itu, dibutuhkan skill berpikir secara menyeluruh dan sistematis agar kamu bisa memahami dan menganalisa dengan baik.

Kemampuan Berbahasa Inggris
Meskipun bukan kuliah kedokteran di luar negeri, kemampuan berbahasa inggris yang baik tetap wajib untuk dikuasai.

Pasalnya, jurusan ini juga menggunakan banyak buku pelajaran berbahasa Inggris.

Masih kekeuh ingin membaca buku bahasa Indonesia? Bisa-bisa ilmu yang kamu dapat nantinya malah sudah tidak relevan, lho!

Thomas mengungkapkan bahwa kamu justru bisa ketinggalan dengan teori terbaru yang lebih relevan dengan industri saat ini.

Dibutuhkan waktu yang lama untuk menerjemahkan buku ke dalam satu bahasa.

Makanya, bisa dibayangkan betapa ketinggalannya kamu jika menunggu terbitan buku berbahasa Indonesia, di saat sudah ada buku baru dengan tambahan ilmu dan teori baru yang berhasil menyanggah teori lama.

Selain bahasa Inggris, dunia kedokteran juga akrab dengan istilah-istilah dalam bahasa Latin. Jadi, siap-siap saja ya!

Berapa Lama Waktu untuk Lulus dari Jurusan Kedokteran?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kuliah jurusan kedokteran memang lebih lama dibandingkan kuliah jurusan lain.

Meskipun bisa bervariasi tergantung prestasimu, tapi umumnya pendidikan kedokteran bisa diselesaikan dalam waktu minimal 6 tahun.

Kuliah Sarjana Kedokteran (S.Ked)
Kuliah di jurusan kedokteran tidak menganut sistem kredit (SKS), melainkan blok.

Tiap SATU blok, kamu akan belajar mengenai SATU sistem organ secara menyeluruh, mulai dari fungsi, penyakit, obat, cara pemeriksaan, dan interpretasi hasil laboratorium.

Di sini juga tidak ada Ujian Akhir Semester seperti kuliah pada umumnya. Sebagai gantinya, ada 3 jenis ujian yang akan kamu hadapi, yaitu:

Ujian Teori Tertulis (tiap akhir blok): terdiri dari soal pilihan ganda yang bisa mencapai 500 butir. UAS dan UAN dijamin enggak ada apa-apanya!
Ujian OSCE (tiap akhir blok/semester): merupakan ujian keterampilan di mana kamu harus mendiagnosa “pasien sandiwara” atau manekin di depan dokter penguji.
Ujian SOCA (tiap akhir 2 semester): di sini kamu harus menjelaskan secara lisan jawaban dari soal kasus, mulai dari konsep, tindakan, alasan, ekspektasi, dan treatment yang akan kamu ambil.
Setelah selesai, kamu akan diwisuda dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked). Tapi ingat, pada tahap ini kamu belum mendapatkan gelar dokter lho ya!

Program Profesi Dokter (Koas)
Tahap ini dikenal juga dengan istilah yang lebih populer yaitu koas.

Saat koas inilah kamu berkesempatan untuk dirotasi ke berbagai bagian di rumah sakit untuk mempelajari kasus dokter yang ada di Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) secara langsung, bukan dengan pasien bohongan atau manekin lagi.

Kamu bisa bertemu dan menangani pasien secara nyata. Nah, di tahap ini juga biasanya staminamu ditantang karena terkadang ada stase yang mengharuskan untuk berjaga hingga semalaman!

Tahap ini masih merupakan bagian dari masa studimu, jadi jangan membayangkan gaji yang besar dulu ya!

Justru sebaliknya, kamu masih harus membayar biaya kuliah selama kurang lebih 2 tahun atau +14 stase menjalani koas ini.

Di penghujung koas, kamu akan dihadapkan lagi dengan ujian performa yang menggunakan metode mini clinical evaluation exercise (mini-CEX).

Kali ini kamu akan mewawancara, memeriksa, menganalisa, dan meresepkan obat kepada pasien di hadapan para dokter preceptor.

Ada pula ujian yang berkaitan langsung dengan stase yang sedang dijalani, misalnya ujian membaca foto rontgen pada stase radiologi.

Ujian Sertifikasi
Selangkah lagi, kamu sudah bisa mendapatkan gelar dokter di depan namamu!

Tantangan terakhir yang perlu kamu lewati sebelum bisa mengucapkan sumpah dokter yaitu ujian sertifikasi yang terdiri dari Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dan OSCE nasional.

Singkatnya, UKMPPD merupakan ujian tertulis, sedangkan OSCE merupakan ujian praktik.

Ujian ini dilakukan secara nasional dan serentak. Jika diibaratkan, ujian sertifikasi ini kurang lebih seperti UAN saat SMA.

Jika sudah lulus ujian sertifikasi, selamat! Karena akhirnya kamu bisa wisuda (lagi) dan mengucapkan Sumpah Dokter yang menandakan bahwa kamu sudah resmi menyandang gelar dokter.

Internship
Boleh bangga atas gelar baru, namun kamu ternyata belum diizinkan untuk praktik meskipun sudah diwisuda sebagai dokter.

Kenapa? Ternyata kamu masih harus melalui masa internship untuk mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi) paten.

Saat internship, kamu akan praktik kerja di bawah naungan dokter senior. Di sini juga kamu akan menerima upah dari pemerintah.

Setelah mengantongi STR paten, baru deh kamu bisa mengurus Surat Izin Praktik untuk melakukan praktik sebagai dokter umum.

Jika ingin mendalami satu keilmuan khusus, kamu bisa juga mengambil program profesi spesialis dengan rentang waktu yang berbeda-beda, tergantung spesialiasi yang kamu ambil.

Program ini rata-rata membutuhkan waktu mulai 4 hingga 5 tahun.

Baca Juga:

Posted on: August 29, 2019, by :