Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Unpad Pada Tunas Bangsa Di Papua

Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Unpad Pada Tunas Bangsa Di Papua

Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Unpad Pada Tunas Bangsa Di Papua

Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Unpad Pada Tunas Bangsa Di Papua
Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Unpad Pada Tunas Bangsa Di Papua

Tingkat rendahnya budaya membaca di Prov. papua bukan terkendala pada minat baca dan tulis para siswa

namun salah satu penyebabnya ialah kurangnya fasilitas baca tulis yang terbatas di pedalaman Prov. Papua.

Hal tersebut merupakan hasil dari penelitian pendidikan yang dilakukan oleh Organisasi Pecinta Alam Palawa dari Universitas Padjadjaran (UNPAD). Penelitian tersebut dilakukan dalam program Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi dengan melakukan pendataan sosial faktor penghambat baca tulis di salah satu kampung yang berada di Prov. Papua yang bernama kampung Soanggama.

Seperti yang dikatakan oleh salah satu anggota Ekspedisi yaitu Syarifudin Nur pada tim PAPUANEWS.ID

dalam siaran pers pagi tadi (26/12) yang menyebutkan bahwa, “Akselerasi kemampuan membaca anak-anak di sana memang lambat. Namun, bukan karena mereka tidak bisa atau karena budaya yang melarang mereka pergi sekolah, gedung sekolah pun kini sudah ada, hanya mereka butuh alat bantu lainnya, salah satunya buku. Buku cerita berbahasa daerah mayoritas mereka, Bahasa Dani, akan menjadi pemicu semangat mereka dalam baca-tulis”.

Syarifudin menjelaskan juga bahwa, Soanggama merupakan sebuah kampung yang terletak di tengah pegunungan Jayawijaya tepatnya di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Dengan mayoritas ditinggali oleh suku Dani, masih sedikit warga yang menguasai Bahasa Indonesia.
Baca juga : DPRP Usulkan Stadion Mandala Dihibahkan ke Persipura

Disana hanya terdapat satu sekolah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi beberpa desa yaitu SD

Negeri Soanggama. “Disana sangat sulit sekali dalam menerapkan kurikulum nasional seperti yang ada di wilayah Indonesia yang maju. Sehingga para guru disana menerapkan kurikulum yang dirasa cocok dengan kehidupan sehari-hari bagi masyarakat disana” Jelas Syarifudin.

“Total ada sebanyal 4 orang guru yang ada di sekolah tersebut menggagas pendidikan berbasis kasih sayang. Keempat guru tersebut takni Arnoll, Sugeng, Andika dan Piyus mengajar seluruh mata pelajaran di enam kelas berbeda. Mereka juga dituntut serba bisa mulai dari menangani siswa sakit, hingga tempat siswa bertanya terkait masalah keluarga” Ujar Syarif menambahkan.

Dia juga menjelaskan bagaimana cara para siswa tersebut membalas kebaikan dari guru yang mengajar pada mereka disana seperti mengantarkan ubi, daun labu, daun bawang, atau markisa langsung dari kebun atau jika hujan tak kunjung datang, sehingga bak di kamar mandi kering, cekatan anak-anak mengambil air dari sungai atau mata air yang jaraknya melewati jalanan berlumpur dan saru bukitan demi memastikan pak guru masih bisa mandi.

Program Ekspedisi yang meneliti tentang pendidikan tersebut telah berlangung sejak 18 Nopember 2016 lalu dan para anggota ekspedisi telah kembali ke Bandung pada awal Desember 2016 kemarin. Adapun nama-nama anggota ekspedisi tersebut ialah : Anisa Asri (21), Syarifudin Nur (20), Rizki Mulia (21), dan Teresa Erika (19).
Baca juga : 21 Siswa Terbaik Papua Barat Ikuti SMN 2017 di Makassar

Ketua Pelaksana Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi, Ichsan Lovano Pradewa menjelaskan Palawa Unpad berencana untuk menerbitkan buku cerita berbahasa Dani guna menambah fasilitas baca tulis di kampung Soanggama.

“Buku tersebut akan dibawa dan diberikan oleh Tim Pendakian Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi sebelum mendaki Jayawijaya, Januari 2017 mendatang. Buku ini sebagai bentuk semangat membantu literasi di Kampung Soanggama,” tuturnya.

Ekspedisi Nemangkawi Unpad mengusung tema “Petualangan dan Pendidikan” dan dalam tim ini de bagi menjadi dua tim yaitu tim pendakian dan tim penelitian pendidikan. Setelah penelitian pendidikan selesai dilakukan, tim lainnya akan melakukan pendakian menuju titik tertinggi di Indonesia, Puncak Nemangkawi atau lebih dikenal dengan Cartensz Pyramid yang akan dilaksanakan tahun Januari 2017 esok.

Semoga hasil dari dari penelitian ini Pemerintah dapat membuat program pendidikan terfokus pada daerah-daerah pedalaman seperti yang ada di pedalaman Prov. Papua ini. Selain itu Pemerintah Daerah juga diharapkan dapat mampu mendukung program pendidikan yang ada di pedalaman ini dengan melakukan terobosan-terobosan baru jangan hanya bergantung pada Pemerintah Pusat saja.

 

Baca Juga :

Posted on: August 13, 2019, by :