Tanggapan Kritis

Tanggapan Kritis

Tanggapan Kritis

Tanggapan Kritis
Tanggapan Kritis

Arendt menyimpulkan beberapa point mengenai kebenaran dan politik.

Kebenaran tetap tidak tergantikan bagaimanpun kekuatan politik yang berusaha mempengaruhinya atau majunya rasio manusia. Dan kebenaran juga tidak tergantikan bagaimanapun persuasifnya atau kerasnya suatu pendekatan politis yang dilakukan untuk mengubahnya. Kebenaran akan teriak keluar dan tidak akan bisa ditutupi selamanya, bagaimanapun kerasnya kekuatan politik berusaha menutupi.

 

Menyatakan kebenaran artinya

kita berdiri diluar alam politik. Posisi seorang filsuf, keterasingan seorang ilmuan atau seorang seniman dan kenetralan seorang sejarawan atau seorang hakim. Berdiri secara objektif dalam mengumpulkan fakta, menyaksikan dan menyajikan fakta-fakta tersebut apa adanya. Tapi komitmen politik tidak akan dimungkinkan jika situasi seperti itu ada. Kebenaran-kebenaran dan penilaian-penilaian yang tidak diinginkan maka muncul dari universitas-universitas dan lembaga-lembaga diluar struktur pemerintahan atau dunia politik. Pengungkapan-pengungkapan ini menempatkan mereka pada posisi terancam bahaya yang muncul dari kekuatan-kekuatan sosial dan politik. Pers dalam hal ini harus dijaga kenetralannya. Pers memiliki fungsi politik untuk menyebarkan kabar atau berita. Kenetralan dijaga dengan mengatakan apa adanya tanpa melakukan, tidak memutuskan dan tidak terlibat, atau menjaga jarak, berada diluar dunia politik.

 

Kebenaran berbeda dan lebih dari sekedar keseluruhan fakta dan peristiwa

kebenaran juga melibatkan pemahaman yang komprehensif dari manusia, rekonsiliasi antara pemahaman dan pengetahuan manusia dengan peristiwa atau fakta-fakta yang tersaji. Dunia politik tidak lebih dari sekedar arena pertarungan kepentingan sebagian, konflik kepentingan dimana yang diperhitungkan hanya faktor kesenangan dan keuntungan, kepartaian dan nafsu akan kekuasaan. Di level paling rendah ini lah kebenaran factual bersinggungan dengan politik. Namun tetap bagaimanapun, ini tidaklah mewakili keseluruhan eksistensi manusia dan dunia. Manusia tetap bebas untuk bertindak dan berubah, tetap seutuhnya menjaga integritasnya dan harapannya.

 

Berdasarkan ulasan atas pemikiran Arendt di atas

saya coba mengajukan pertanyaan: apakah kebenaran masih bernilai? Saya berpendapat bahwa kebenaran sebenarnya berada di dalam pemahaman manusia, di dalam rasionya. Bagaimana kebenaran diterima oleh manusia lainnya dan masyarakat yang lebih luas, sangat bergantung pada bagaimana kebenaran tersebut disampaikan, dan tentu saja ini berarti bagaimana sesuatu disampaikan secara manipulatif atau persuasif. Penyampaian ini akan membentuk suatu persepsi kita atas hal yang disampaikan. Persepsi sebagaimana Maurice Merleau-Ponty kemukakan dalam Phenomenology of Perception, adalah tidak semata datang dari obyek diluar kita. Merleau-Ponty memulai penyelidikannya mengenai persepsi dengan ulasan tentang sensasi. Ia berargumen bahwa sensasi sebenarnya tidak bisa dilihat sebagai penggambaran mengenai suatu pengalaman, dan setiap penilaian dengan menggunakan sensasi untuk menjelaskan persepsi akan selalu dapat dipertanyakan. Ia melakukan kritik terhadap analisis tradisional mengenai persepsi. Ia melihat bahwa analisis tradisional mengenai sensasi mengakibat distorsi dalam persepsi itu sendiri. Ia melihat ini terjadi sebab, analisis tradisional membangun persepsi dari dasar dunia obyektif sedangkan pada kenyataannya, persepsi justru berdasar pada dunia pra-obyektif. Dunia pra-obyektif yang dimaksud adalah dunia yang kita alami secara langsung [8]. Dari padanyalah dunia obyektif kemudian dibangun. Dunia pra-obyektif ini sudah ada sebelum refleksi filosofis dan penjelasan pengetahuan. Sensasi kemudian menjadi syarat minimum untuk merekonstruksi sebuah persepsi yang didasarkan pada dunia obyektif. Di sinilah apa yang ia sebut distorsi muncul, yaitu memperlakukan sensasi secara murni sebagai impresi/kesan dan kedua membuatnya obyektif seolah terdiri dari kualitas-kualitas yang dideterminasi.

 

Maka saya berpendapat ini hanyalah masalah bagaimana sesuatu itu dikonstruksikan, di dalam kepala kita sendiri maupun ketika kita melemparnya agar diterima di dalam masyarakat. Verifikasi tidak akan bertahan pada tindakan atau peristiwa, sebab tindakan akan menimbulkan perdebatan dan argumen yang panjang sebagaimana ia bisa dipersepsikan dalam berbagai macam cara tergantung pemahaman subyek yang mempersepsikannya. Dan pemahaman ini, yang membentuk persepsi yang kemudian produknya adalah opini atau lebih serius lagi, penilaian atas sesuatu, penuh dengan distorsi.

Distorsi! Tepat di sinilah politik memainkan perannya. Politik modern yang koruptif, penuh dengan pelaku-pelaku ego-maniak, rakus dan munafik, bersembunyi di balik ide-ide mengenai common good, kepentingan masyarakat atau kepentingan bersama dan memainkan distorsi ini dengan sangat lihai dan tidak bertanggung jawab. Saya tidak mungkin menelusuri genealogi kebobrokan yang berlangsung di dunia politik dalam paper ini, namun Arendt sudah menyimpulkan bagaimana perbedaan antara genuine politic dengan politik yang berlangsung pada masa ini. Namun tepat di sini kita melihat bahwa benar, kebenaran tidak mungkin berjalan berdampingan dengan politik. Dan tepat di titik ini, di mana kebenaran terlihat begitu rapuh dan tidak utama, justru kita tahu bahwa kebenaran begitu bernilai. Manusia yang bergerak di antara rasio dan emosinya, dalam kehendak bebasnya dapat melakukan pertimbangan atas apa yang akan ia tindaki. Kebenaran tidak akan bisa dipungkiri akan tetap benar bagaimanapun kita memalingkan muka, maka ia akan selalu hadir “as it is” walaupun dalam tekanan apapun. Maka ia akan selalu hadir dalam kesadaran kita dan menjadi suara hati kita. Masalahnya kemudian apakah, dalam setiap tindakan kita, kita akan mempertimbangkannya? Atau mengabaikannya? Kembali kepada kehendak bebas manusia untuk memilih tindakan yang terbaik yang harus ia lakukan, berdasarkan kebaikan menurut ukuran penilaiannya sendiri.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi

Posted on: July 19, 2019, by :