Kebenaran dan Politik

Kebenaran dan Politik

Kebenaran dan Politik

Kebenaran dan Politik
Kebenaran dan Politik

 

Setelah kita melihat bagaimana kebenaran

dan keburukan dapat digerakkan kesana kemari dengan kekuatan manipulasi dan persuasi dari doktrin-doktrin yang sistematis dan kuat, sebab ia sangat tergantung pada pemahaman manusia, dan masalah pemahaman ini sangat dipengaruhi oleh rasionalitas manusia, yang di konstruksikan dan dengan begitu berarti ia dapat dibangun dengan cara apapun, disinilah tepat kebenaran bersentuhan dengan kepentingan atau politik, dan ini bukan sentuhan yang halus. Pertama kali kita bedakan antara politik dalam arti genuine politic, yaitu politik sesungguhnya yang terjadi untuk mengatur atau mengelola masyarakat demi tujuan baik, dengan politik yang berlangsung pada masa ini, atau politik yang palsu. Politik palsu yang dimaksud adalah, tentang bagaimana politik saat ini hanya merupakan suatu kegiatan yang dijalankan demi tujuan tertentu dan dibuat seolah demi keseluruhan masyarakat. Ada ketidakhadiran institusi yang baik disini, yang hadir adalah agenda terselubung, dan ini jelas justru membuat tatanan yang disasar oleh politik yang sesungguhnya menjadi tidak mungkin.

 

Lalu apa hubungannya dengan masyarakat?

Disini Arendt bicara mengenai konsep Mass Society, dimana dikatakan sebagai masyarakat yang tercabut dari akarnya dan ini terjadi akibat andil faktor ekonomi dalam perkembangan manusia modern. Ekonomi telah mampu meggerakkan perkembangan manusia dalam persaingan politik melalui kekuatan modal atau kapitalisme, dimana hal ini menyebabkan masyarakat berkembang menjadi rakus untuk memenuhi ego pribadi dan menghambakan kekayaan diri, dengan kata lain konsumtif. Artinya masyarakat kemudian dapat diarahkan sikap dan pola pikirnya, implikasi logisnya terjadi perubahan orientasi dalam masyarakat, jelas ini mendudukan masyarakat pada titik dimana penilaian (judging), konsep yang kedua dari Arendt, menjadi kehilangan ke-genuine­-annya.

 

Ketika kita gabungkan kedua ulasan diatas

maka dapat jelas kita lihat bagaimana dalam politik, tujuan-tujuan pribadi atau yang terwakilkan dalam kumpulan tertentu menjadi begitu penting. Dan kenyataan bahwa keburukan dan kebenaran adalah banal, menjadikannya tidak lagi penting secara esensial, tapi bagaimana kegunaannya dalam pencapaian atau mengamankan kepentingan pribadi atau golongan, melalui politik. Dan dalam hal ini kebohongan lebih berguna bagi politik.

Arendt merumuskannya dalam tiga kondisi, terjadi distorsi tindakan, yaitu kegiatan politik tidak dijalankan sebagaimana tujuan sebenarnya, kesalahan yang disengaja, dimana suatu diskusi atau pertemuan politik tidak dilakukan untuk mencari titik temu malainkan untuk tujuan lobi, dan yang terakhir adalah kebohongan yang sistematik, dimana segala institusi politik tidak dibangun dengan tujuan kebaikan masyarakat, melainkan untuk memperkuat dan mempertahankan dominasi kekuasaan. Sekarang kita dapat melihat bagaimana kesemua unsur-unsur tersebut menyatu dan merangsek masuk kedalam kesadaran masyarakat, masuk kedalam rasionalitas dan klaim-klaim kebenaran dan membiaskan masyarakat dalam tindakannya, sehingga kita, masyarakat, dapat melihat kebohongan, keburukan dan sebagaimana lainnya menjadi kebenaran.

Pengorbanan untuk kebenaran akan selalu lebih dihindari ketimbang pengorbanan untuk keutamaan-keutamaan dasar lainnya. Mengapa? Sebab mengatakan kebenaran, apabila merugikan kekuasaan atau dominasi politik yang berlaku, artinya berdiri diseberang kekuasaan. Kebenaran dengan demikian memiliki peluang yang sangat kecil untuk bertahan di dunia, sebab selalu terancam dibalikkan dan dipelintir dalam maneuver-manuver, dan mungkin akan selamanya seperti itu. Fakta dan peristiwa-peristiwa lebih rapuh ketimbang penemuan-penemuan ilmiah, axiom-axiom dan teori-teori.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia

Posted on: July 19, 2019, by :