Pesawat Tanpa Awak dari Anak Andalas

Pesawat Tanpa Awak dari Anak Andalas

Pesawat Tanpa Awak dari Anak Andalas

Pesawat Tanpa Awak dari Anak Andalas
Pesawat Tanpa Awak dari Anak Andalas

Indonesia terus melahirkan generasi emas yang memiliki keahlian membanggakan untuk bangsa. Terbaru karya dari kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Tim Gonjong Tujuah Universitas Andalas Padang.

Mereka berhasil menciptakan pesawat tanpa awak (nir-awak). Pesawat yang bernama Racing Plane Afrg005 dan AFRG (Andalas Flying Robot Generation) itu baru saja memenangkan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017. Kontes ini digelar Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, 16-21 Oktober lalu.

Tim Gonjong Tujuah Universitas Andalas Padang ini merupakan kelompok mahasiswa dari jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) Padang.
pesawat tanpa awak
Ilustrasi pesawat tanpa awak (Pixabay.com)

Dikutip dari Padang Ekspres (Jawa Pos Group), selama ini tim robot itu cukup aktif melakukan berbagai penelitian dan uji coba yang dipandu dosen pembimbing, Dendi Adi Saputra dan Lovely Son.

Dari perjuangan yang gigih, berpikir, meneliti, mengkaji, merakit, menguji coba

dan berinovasi, akhirnya dua kelompok itu sukses menciptakan robot terbang tanpa awak yang berpotensi dikembangkan jadi pesawat terbang angkutan.

Alfindo, salah seorang anggota Gonjong Tujuah AFRG-005 menjelaskan, Racing Plane AfRG-005 memiliki bobot bersih 2,4 kg, panjang sayap 1.2 m, topspeed 200km/ jam, sistem autopilot pixhawk, tenaga penggerak motor brushless dan waktu terbang 20 menit. “Manuvernya cepat, lincah dengan payload 600 gram,” kata mahasiswa semester V Teknik Mesin Unand asal Lubukbegalung Padang itu.

Dengan mengandalkan hasil karya rakitan sendiri ini,

pada pertengahan Oktober 2017, Kelompok Gonjong Tujuah AFRG-005 tidak menyia-nyiakan kesempatan ikut KRTI 2017 di Raci, Pasuruan, Jawa Timur. Kelompok ini berhasil keluar sebagai pemenang. Pada Minggu (22/10) lalu, mereka pulang dari Raci, Pasuruan, Jawa Timur. “Alhamdulilah, kelompok kami keluar sebagai pemenang dan diberi penghargaan oleh Menristekdikti,” kata anak kelima dari tujuh bersaudara kelahiran 15 Juni 1995 itu.

KRTI merupakan ajang tahunan Kemenristekdikti untuk seluruh peruguran tinggi di Indonesia dengan menantang mahasiswa mendesain, memproduksi, merakit dan menerbangkan pesawat buatan sendiri dengan misi tertentu.

Tahun ini, fokusnya pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV) atau unmanned

aircraft system (UAS), yakni wahana terbang nir-awak yang dalam satu dasawarsa terakhir berkembang kian pesat di ranah riset unmanned system (sistem nir-awak) di dunia.

Dunia pertahanan dan keamanan sementara ini masih menjadi pengguna terbesar, seperti misalnya informasi roadmap penggunaan sistem nir-awak di Departemen Pertahanan Amerika saja, setidaknya pada 2020 sudah merencanakan sekitar 20 persen pasukan mereka adalah sistem nir-awak (robot).

Aplikasi lain misalnya, untuk pemantauan (monitoring) dan pemetaan (mapping) secara real-time kawasan kritis seperti daerah konflik penguasaan lahan (tambang, maritim, dan sebagainya), perbatasan antar-negara, perkebunan dan lainnya.

 

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/afiksasi-adalah.html

Posted on: July 4, 2019, by :