Proses Pemeriksaan Cepat dalam Hukum Acara Pidana

Proses Pemeriksaan Cepat

Proses Pemeriksaan Cepat dalam Hukum Acara Pidana

Proses Pemeriksaan Cepat
Proses Pemeriksaan Cepat

 

Dalam Proses Pemeriksaan Pidana di Pengadilan Negeri, ada 3 macam Pemeriksaan, yaitu

Acara Pemeriksaan Biasa, Acara Pemeriksaan Singkat, dan Acara Pemeriksaan Cepat. Proses Pemeriksaan Biasa telah digambarkan terdahulu di blog ini dalam artikel Hukum Acara Pidana.

 

Proses Pemeriksaan Singkat adalah

pemeriksaan terhadap perkara kejahatan atau pelanggaran yang tidak termasuk ketentuan pasal 205 dan menurut penuntut umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana (Pasal 203 ayat (1) KUHAP). Proses Pemeriksaan Singkat ini akan dibahas dalam artikel tersendiri di blog ini.

 

Sedangkan Proses Pemeriksaan Cepat adalah

proses pemeriksaan terhadap perkara pidana yang diancam denda pidana penjara atau kurungan paling lama 3 bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 7500 (Tindak Pidana Ringan/tipiring) dan perkara penghinaan ringan (Pasal 205 Ayat (1) KUHAP). Contoh perkara Tindak Pidana Ringan adalah PSK, Minuman Keras dan lain-lain. Perkara Pelanggaran Lalulintas juga diperiksa dengan diperiksa dengan Pemeriksaan Cepat (Pasal 211 KUHAP).

Salah satu ciri utama Pemeriksaan Perkara Cepat adalah hakim pemeriksa perkaranya Hakim Tunggal (bukan Majelis)

 

Tipiring

Dalam pemeriksaan cepat perkara tipiring, penyidik atas kuasa penuntut umum, dalam waktu tiga hari sejak berita acara pemeriksaan selesai dibuat, menghadapkan terdakwa beserta barang bukti, saksi, ahli dan atau juru bahasa ke sidang pengadilan. Perkara ini diproses dengan menggunakan hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir, kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan terdakwa dapat minta banding.

Pengadilan negeri harus menetapkan jadwal pemeriksaan perkara tipiring pada hari tertentu dalam tujuh hari (satu minggu sekali), dan frekuensinya tergantung jumlah perkara yang dilimpahkan ke pengadilan negeri.

Penyidik memberitahukan kepada terdakwa secara tertulis hari, tanggal, jam dan tempat ia harus menghadiri sidang, dan hal tersebut dicatat oleh penyidik, selanjutnya catatan tersebut bersama berkas dikirim ke pengadilan. Berkas perkara tipiring yang diterima harus segera disidangkan pada hari sidang itu juga.

Setelah menerima berkas, Hakim memerintahkan panitera untuk mencatat perkara yang diterma dalam buku register yang memuat: nama Iengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa serta apa yang didakwakan kepadanya.

Dalam proses pemeriksaan cepat, saksi tidak perlu mengucapkan sumpah atau janji kecuali dianggap perlu oleh hakim.

Berita acara pemeriksaan sidang tidak dibuat kecuali jika dalam proses pemeriksaan tersebut ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh penyidik, sedangkan Putusan dicatat dalam daftar catatan perkara dan dicatat dalam buku register serta ditandatangani oleh hakim yang bersangkutan dan panitera.

Sumber : http://www.tricastservices.com/tips-cerdas-mendidik-bayi-agar-pintar/

Posted on: June 19, 2019, by :